Bila hari ini ku
tersenyum, karena langitlah yg Allah ciptakan dengan maha inidahnya,
Biru berkilau
terpapar senyum sang mentari di malam yang telah berpisah dengan surya kala itu
Menyaksikan
kemesraan atara bumi dan langit yang memeluk matahari, sangat intim
Ketika di sudut
bumi ku menunggu, menunggu sampil menerbangkan dandelion2ku, ku lihat satu
dandelionku jatuh ke bumi, menatapnya begitu lekat, sangat lekat hingga tanpa
sadar ketika sang hujan beruwaya sampai sudut ruangku, dandelionku tumbuh,
tumbuh dan terus tumbuh, indah kembali menggelayut kala dandelionku terbunuh
namun dia menumbuhkan beribu2 dandelion lainnya
Berbatas kaca
kusam di malam ini, bintang sedang bersenandung, bersenandung dengan mesra
dengan sang bulan, tertawa, menari riang, tanpa sadar ketika sang waktu
mengharuskannya berpindah ke sisi dunia lain untuk melanjutkan mimpi-mimpinya
bersenandung dengan bulan, lagi dan lagi kala itu, bintang harus kembali
menangis, menangis menatap lekat ketika bulan di telan sang naga jahat, termenung
dalam kesendirian malam, sambil terus menunggu kedatangan bulan, berharap tanpa
lelah
fenomena indahnya langit tembalang malam itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar